05 November 2009

Fenomena Kyai Exodus Jadi Politisi

Euforia kemenangan Reformasi meruntuhkan regim Orba melahirkan paradigma baru. Kiyai yang tidak tampil dengan ekspresi garang, tidak mengkritik keras Orba tanpa mengacungkan telunjuk atau kepalan tangan, tidak dianggap Kiyai Reformis. Banyak Kiyai yang sebelumnya bergaya "teduh" kalem dan karimatik, terjebak ikut tuntutan jaman berubah jadi garang di atas mimbar.

Apa penyebab banyaknya Kiyai exodus jadi Politisi? Salah satu faktor mungkin karena sebal pada budaya hipokrasi politisi jaman Orba yang "hanya" mendekati orang Pesantren lima tahun sekali hanya pada saat membutuhkan dukungan saat Pemilu, setelah kacumponan kabutuh menang Pemilu, kembali acuh menjauhkan diri. Ada sedikit perubahan pada era reformasi, tokoh Pesantren digaet dan diberi peran dalam tim sukses, dibebani tugas bak calo angkutan di terminal, disuruh teriak-teriak membujuk penumpang agar memilih dan memenuhi kendaraan (baca Parpol) yang telah ditentukan, setelah mobil penuh sesak, belenyeng mobil pergi meninggal si calo yang hanya diberi sekedar uang lelah buruh gogorowokan. Yang paling sering menyesakkan bagi lingkungan Pesantren adalah ketika politisi yang didukung setelah mencapai hasil maqosidana berhasil duduk di bangku legislatif atau eksekutif, politisi itu ternyata ingkar janji bahkan mengkhianati amanahnya sewaktu kampanye, bahkan harus menghadapi tuntutan hukum karena ia menjual kebenaran dan membela kesesatan.

Hal yang seperti itulah yang barangkali motivasi para tokoh Pesantren yang tadinya cuma sekedar diminta ngadu’akeun atau digaet jadi tim sukses untuk terjun langsung masuk gelanggang Politik daftar jadi Caleg.

Filosofi Islam mengatakan bahwa salah satu faktor pendukung tercapai Negara yang baldatun toyibatun warrobun ghofur adalah apabila ada kerjasama yang apik antara Ulama dengan Umaro. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al Gazali mengatakan sebaik-baiknya Umaro adalah apabila sering keluar masuk pintu mengunjungi Ulama, dan seburuk-buruknya Ulama apabila ia sering keluar masuk pintu Umaro. Umaro alias birokrat wal alias eksekutif atau pejabat itu adalah kekuasaan atau power penentu kebijakan. Sedang fungsi Ulama menurut masukan dari sahabat saya seorang Kiyai muda pimpinan sebuah Pesantren besar di Manonjaya yang juga mencalonkan diri sebagai Caleg untuk DPR Pusat, Kiyai ini menjelaskan bahwa disamping menguasai dan mengajarkan ilmu agama, Ulama juga berfungsi sebagai Mu`addib : membimbing, memberi motivasi. Murrobbi : Imam, membimbing, mengarahkan. Mujahid : memperjuangkan, terutama perbaikan taraf kehidupan, membela ummat yang terhimpit kesulitan. Jadi, sah-sah saja kalau Kiyai nyalonkeun jadi caleg, kitu sambung Sang Kiyai, Mu`addib, Murobbi dan Mujahid adalah motivasi dia untuk mencalonkan diri. Para anggota DPR - MPR yang tengah menjabat sebagai Wakil Rakyat sekarang ini pun banyak yang punya latar belakang atau kaitan dengan Ponpes, terutama yang berasal dari Parpol Islam, pasti banyak yang paham dan memiliki motivasi yang sama dengan Kiyai sahabat saya itu, paling tidak, mungkin pada awalnya begitu tapi lambat laun motivasi itu luntur lalu habis terkikis oleh virus Hedonisme atau dalam istilah Kiyai disebut hubbud-dunya (cinta duniawiyah), koq bisa begitu? Ya bisa saja, Ulama meski disebut sebagai pewaris Nabi tapi Ulama ‘kan manusia biasa yang tidak diwarisi perisai Ma’sum atau dibebas dari godaan sebagaimana para Nabi, jadi wajar saja kalau Wakil Rakyat yang berlatar belakang Pesantren bisa kena symptom (penyakit) yuhibbunad dunya wa yamsaunal akhirat (mencintai dunia melupakan akhirat) sebagai akibat lanjut dari symptom yuhibbunnal qurso wa yamsaunal qubro… mencintai kursi (kedudukkan – jabatan) melupakan tanggung jawab setelah dikubur. Maklum, Power tends corrupt… kekuasaan itu rawan godaan korupsi, korupsi di rumah Wakil Rakyat sudah jadi rahasia umum dan kerap terungkap di Pengadilan.

Era Reformasi membuktikan apa yang diprediksi oleh Rosululloh SAW : Akan datang suatu saat yang berbeda dengan saat ini (era Rosul) dimana banyak yang menguasai ilmu fiqih tapi sedikit yang menguasai cara berkhutbah, pada masa itu akan lebih banyak orang yang ahli berkhutbah tapi semakin sedikit yang menguasai ilmu fiqih.

Yang lebih memprihatinkan dari krisis Ulama adalah adanya fenomena aneh pada era reformasi yang melahirkan ekslusifisme Ulama, komodifikasi Agama yang membangun image Ulama sebagai sosok elit. Komodifikasi yang melahirkan Kiyai-Kiyai Infotainment dengan kualitas sebagaimana yang digambarkan Rosul, para pengelola Broadcast tidak peduli tausyiah Kiyai Infotainment itu memberikan pencerahan atau tidak, bagi mereka yang penting bagi mereka pesona dan karisma Kiyai Infotainment mampu mendongkrak rating komersial naik. Konon untuk mengundang mereka mengisi pengajian diluar jadwal TV, panitia harus menyediakan dana paling sedikit 7 digit, belum termasuk tiket pesawat dan kamar mewah hotel.

Hilangnya keikhlasan dalam menjalankan kewajiban bukan saja melanda para Birokrat, Legislatif maupun para penegak Hukum, tapi juga di kalangan Ulama. Hal lain yang mungkin menjadi penyebab terjadinya hal yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai ...Wata'awanu alal ismi wal 'udwan… yang bisa diartikan "bersekongkol untuk kepentingan golongan" telah menyebabkan para Anggota Dewan bukannya mewakili kepentingan rakyat tapi lebih mengutamakan kepentingan Partai tempat dia bernaung. Kalau kata Partai hitam, dia harus bilang hitam juga. Barangkali ada baiknya para Ulama tidak bernaung dibawah Parpol tapi dibentuk Dewan Perwakilan Ulama, sebagaimana wadah DPD (Dewan Perwakilan Daerah), dengan begitu Ulama bisa lepas tekanan kebijakan Parpol agar lebih independen dalam mewujudkan motivasinya.

Ada pengalaman masa kecil sekitar awal tahun 50’an yang tidak akan saya lupakan. Saya diminta menemani Uwa yang ditugaskan jajap Ajengan Hamim di Cilingga. Ba’da Ashar Ajengan Hamim harus sudah sampai di Masjid H. Bakri. Sebelum dzuhur saya dan Uwa sudah berangkat jalan kaki, saat itu belum usum yang namanya uang transport, jalan antara Cihideung Balong – Cilingga masih berupa pesawahan dan bukit hutan kecil, harus mapah mapay galengan meuntas susukan. Setelah dijamu makan dan sholat dzuhur, langsung berangkat lagi. Di tengah perjalanan tiba-tiba Ajengan Hamim berhenti lalu nagog (jongkok), lalu dia memberi tanda agar saya dan Uwa ikut nagog, ketika Uwa bertanya ada apa malah dijawab dengan isyarat agar jangan bersuara, ada 10 menit begitu, karena kuatir terlambat Uwa kembali bertanya, kembali dijawab dengan isyarat, baru kira-kira 5 menit kemudian Ajengan Hamim menjelaskan : "tuh tempo manuk tikukur deukeut galengan…" katanya sambil menunjuk sekelompok burung Tekukur yang makan tebaran pare bekas panen. "lamun urang ngaliwat pasti hiber…atuh mun kitu mah sarua we urang ngaganggu kana kanikmatan mahluk Alloh”.

Subhanalloh, setiap ingat kejadian yang menggambarkan da’wah bil hal itu selalu timbul rasa kehilangan dan kerinduan, apakah para Alim Ulama atau Ajengan model Ajengan Hamim itu masih ada? Mudah-mudah tulisan ini memberi motivasi pada para Ulama yang sorbannya berhasil palid ka Senayan. Barakallohulaka Kang Haji, sekalipun Sorban mungkin harus diganti dasi, semoga tetap teguh dalam menjalankan amanah, Aamiin.

Tasikmalaya, 14 April 2009
DR. H. Budi Schwarzkrone, Msc.
Mubaligh Ponpes Suryalaya.
Insan Film & TV.

Editor : hiazd

Lengkapnya...

09 September 2009

Suryadharma Resmi Ajukan Surat Mundur ke SBY

Rabu, 9 September 2009 - 16:34 wib
Ahmad Baidowi - Koran SI

JAKARTA - Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali (SDA) mengundurkan diri dari Kabinet Indoensia Bersatu.

SDA lebih memilih duduk sebagai legislator di Senayan daripada menyelesaikan kewajibannya sebagai pembantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Menghindari rangkap jabatan di DPR, hari ini saya telah menyampaikan surat kepada Presiden tentang pengunduran diri saya selaku Menteri Koperasi dan UKM," demikian isi pesan singkat yang dikirimkan SDA, Rabu (9/9/2009).

Selain SDA, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik juga mengaku akan meninggalkan kabinet.

Sementara menteri lainnya yang juga mendapat amanat sebagai wakil rakyat, yakni Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, melepaskan kursinya di Senayan.

Sedangkan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy belum memutuskan apakah akan menyelesaikan tugas hingga 20 Oktober bersama SBY atau mempertanggungjawabkan suara rakyat yang telah diberikan pada Pemilu 2009.

Sumber

Lengkapnya...

03 September 2009

Hasil MK Final, KPU Tetapkan Legislator 2009-2014

Kamis, 3 September 2009 - 00:22 wib

JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya mengumumkan para legislator terpilih. Pengumuman disampaikan langsung oleh Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, didampingi segenap komisioner KPU beserta Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nur Hidayat Sardini.

"Sesuai dengan rencana kita, setelah MK memutuskan hasil penghitungan suara ulang di beberapa provinsi maka KPU akan menetapkan perolehan kursi dan calon terpilih," kata Hafiz, Rabu (2/9/2009).

Hafiz mengatakan, penetapan pada dasarnya telah dilakukan pada 21 Agustus 2009, meskipun belum diumumkan karena menunggu putusan final Mahkamah Konstitusi (MK) tentang pemungutan dan penghitungan suara ulang di sejumlah provinsi yang dikeluarkan kemarin.

Secara keseluruhan tidak ada perubahan calon terpilih pada penghitungan tahap satu dan dua. Perubahan hanya terjadi pada penghitungan tahap tiga sesuai putusan MK.

Di antara calon yang menjadi "korban" perubahan penghitungan tahap ketiga tersebut adalah Ketua DPR Agung Laksono, yang tergusur dan digantikan oleh Saifuddin Donodjoyo dari Partai Gerindra.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat legislator, yakni Erry Purnomohadi calon PAN dari daerah pemilihan Jawa Barat XI, Suwardjono calon Partai Gerindra dari dapil Jawa Tengah VIII, Ahmad Daeng Se're caleg PPP dari dapil Sulawesi Selatan I, dan Mochammad Mahfud calon PPP dari dapil Jawa Timur XI urung ditetapkan.

Bawaslu menduga mereka melanggar Pasal 50 Ayat 1 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif yang mewajibkan PNS dan pejabat BUMN mengundurkan diri saat ditetapkan sebagai calon legislator oleh KPU.

Bawaslu akan melakukan penyelidikan atas keempatnya dan jika dinyatakan tidak terbukti melanggar, KPU akan segera menetapkan mereka sebagai calon terpilih. Pelantikan para legislator terpilih akan dilakukan pada 1 Oktober 2009.

Sumber :

Lengkapnya...

27 Agustus 2009

Mashaf Al-Quran Di Internet

Anda ketinggalan mashaf al-Quran? Dan ingin terus bertadarrus? Kini tidak perlu repot, kalau ada PC atau Laptop plus koneksi internet (bisa di warnet lho).

Menunya juga gampang pisan, persis seperti baca al-Quran di kertas, bisa buka per halaman atau loncat maju atau mundur ke halaman tertentu, bahkan kalau font (tulisannya) dirasa terlalu kecil disediakan kaca pembesar.
Penasaran?

Kunjungi saja al-quran.com

Selamat mencoba dan semoga bermanfa'at.

Lengkapnya...

Photo Bersama

Photo Bersama
KH. Asep Ahmad Maoshul Affandy tengah berdiri beserta Tim dan RESSANT setelah bersilaturahmi dengan para Alumni Miftahul Huda se-Garut di Samarang Garut.